SENANDIKA KEI
๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐
; ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฉ๐ ( ๐ฝ๐๐๐๐๐ฃ ๐๐๐ฃ )
Kenan Bratadikara.
Itu adalah nama pria yang dulu sempat sejenak menempati ruang di hatiku- Keishee Dellanda. Hanya sebentar, tapi luar biasanya bisa sampai membuat kekacauan besar di dalam sini yang sesak tiada tara.
Singkatnya . . .
Kenan itu simpel, dia baik. Tapi, dia juga jahat.
Tidur
yang enak itu, tidur yang ketiduran. -
Kei
Tidur
yang ngga enak itu, yang ditinggal tidur karena ketiduran. -
Ken
Aku masih ingat, tiap waktu yang kita habiskan hanya dengan berbagai
macam kekonyolan biasa yang malah lucu nya terkadang hal itu menjadi point utama untuk aku rindukan. Kegiatan bertukar pesan hingga pagi
buta juga menjadi favorit ku kala itu. Tak lupa, suara khasnya pun sudah menjadi
alunan musik pengantar seorang Kei ini dapat tertidur dengan cepat.
Ken- pria
yang menyandang gelar Si Tukang Kebo, sudah
menjadi cemilan Kei tiap harinya.
Selamat
pagi kak, jangan lupa sarapan!
Semangat
nanti ngampusnya, awas aja kalo tidur di kelas lagi!
Singkat dan jelas. Tapi bisa menjadi arti yang berbeda untuk
seorang Ken. Menurutnya, Kei orangnya bawel pakai banget-nya itu double, bisa ngalahin Bunda kalau lagi mode Rap di rumah. Ck,
dasar.
Usia Ken lebih tua, beda 2 tahun aja kok. Masih wajar kan
buat aku naruh perasaan yang mungkin cuman bisa dipendam seorang diri aja tanpa
perlu orang lain tahu, apalagi Ken.
Oh iya, sebuah hubungan itu ga lengkap banget kalo ngga ada
yang namanya pertengkaran. Mau itu kecil atau besar, pasti bakalan ada. Ya,
contohnya Kita.
Memangnya hubungan kita itu apa, sih? Ngga tahu, ehehe . . .
Dek,
marah pasti, ya?
Kalau
udah ngga marah bilang, ya. . .
Istirahat
dulu, Aku tau emang bego orangnya.
Sebenarnya, setiap keributan yang kita berdua ciptain itu selalu
jadi hal yang sepele banget. Malahan dihitungan yang ngga sampai masuk ke-30
menit kita bakal baikkan lagi kok. Soalnya kita ini orangnya cinta damai! Eh, tapi
bohong, deh. Ken, tuh, nyebelin banget. Tapi anehnya aku ngga bisa marah
lama-lama sama dia.
Paling lama kita ngga saling sapa itu sehari. Iya, sehari. Nah,
itu termasuk pertengkaran yang lama atau sebentar?
2 minggu berlalu.
Perasaan yang kian hari mulai muncul dengan tanpa adanya pakasaan.
Akan tetapi tak berselang lama, langsung seperti dilempar puluhan jarum tiba-tiba.
Kalau ditanya, kenapa?
Aku menjauh bukan berarti tak peduli, tapi karena aku tahu
diri.
Aku acuh bukan berarti tak rindu, tapi ntah kenapa aku
terlalu gengsi.
Aku diam bukan berrati tak sayang, tapi kembali lagi kepada
egoku yang tinggi.
Kamu mungkin tak tahu . . .
Aku masih mengagumi dari sini, lewat jarak, acuh, dan juga
diam ku.
Aqila namanya.
Aku ga terlalu tahu menyangkut soal Aqila. Orangnya yang
mana, seperti apa dia juga waktu itu aku belum tahu. Di malam sebelum acara banjir
tangis yang mungkin menjadi momen terbodoh oleh seorang Kei lakukan saat itu, Ken
sempat bicara sore harinya.
”Kei,
mau janji, ngga? Jangan marah dulu, ya?”
“Ada
cewe yang aku suka, aku mau bilang ke dia soal perasaan ku nanti malem. Tapi,
aku mau kamu jangan pernah ada kepikiran buat ngejauh apalagi sampai pergi dari
aku, ya?”
“Aku
minta maaf, aku sayang sama kamu Kei, tapi Aku gamau kehilangan dia.”
Sekilas tersadar, seperti sudah kembali kekenyataan. Bahwa
menaruh harapan dan ekspektasi tinggi itu tidak begitu bagus jika ditanamkan
dalam diri. Karena, kita belum mengerti akan dihadapkan oleh realita yang bakalan
seperti apa dikemudian hari.
Bahagia,
ya, kak.
Aku sakit, teramat sakit untuk diutarakan hanya dengan sebuah
kata. Karena ini sudah berujung sesak yang tak berpenawar. Bohong jika aku sanggup
menuai senyum untukmu ketika mengatakannya. Bohong jika aku semudah itu
merelakanmu dengan sepatah kata kata alih-alih membuatmu berpikiran semua kan
baik-baik saja. Bohong jika aku tetap berpendirian baja. Bahwasanya, raga ini
tumbang sehabis kau tinggalkan aku bersama jejak usapan hangat mu pada kedua
pipiku. Kemudian melanjutkan lagi perjalanan baru mu dengan Dia.
“Dek,
kakak udah resmi sama dia.”
“Selamat,
Kak!”
2 kata itu yang hanya bisa aku ucapkan saat itu. Terdengar lega
juga bahagia di telinga mu, kan, Kak? Iya. Menurut sudut pandang mu. Tanpa kamu
tahu jika ada bunyi patahan ngilu yang tak bisa kamu dengarkan apalagi kamu
amati. Aku tersenyum di situ, namun tepat ketika kamu pamit pergi, bulir tetesan
bening itu jatuh lagi.
Aku sempat bertanya di ruang chat kita, Apa
arti aku buat kamu, Kak?
Harusnya, detik itu juga aku bisa menjawab sendiri
keseluruhan pertanyaan yang ku rapalkan. Tanpa harus susah payah menunggu jawaban
mu di sana yang setengah hati. Lucu, waktu kau seolah tetap baik meski telah
melihat jelas aku yang teriris menahan perih. Hebat! Sebab yang teramat bodoh di
sini itu aku. Ketika masih menaruh kepercayaan di atas segala omong kosong mu
hingga dipertahanan terakhir ku.
Selesai. Tanpa adanya kata mulai.
- Karena ada banyak permasalahan lain yang tidak bisa dijabarkan hanya dari sebuah rentetan kata. Kei & Ken resmi selesai karena keinginan mereka berdua, meski awalnya tidak ingin meninggalkan satu sama lain, pada akhirnya satu persatu pasti akan saling pergi meninggalkan namun tetap dengan membawa perasaan bahagia masing-masing.
———————
Tertanda,
samearra •แดฅ•
Komentar
Posting Komentar